POLITIK KEBUDAYAAN DALAM PERAYAAN 1 SURO YANG SAKRAL

TEMA : POLITIK KEBUDAYAAN DALAM PERAYAAN 1 SURO YANG SAKRAL

Oleh : Drs. Bambang Diponegoro MSc (pakar Budaya dan Karakter Bumi dan Alam Semesta)

Tahun baru Islam yang jatuh di bulan Muharam ini juga bertepatan dengan awal penanggalan kalender Jawa, yang dimulai dari bulan Suro.

Satu Muharam atau Suro yang memiliki catatan peristiwa penting di dunia Islam ataupun kebudayaan masyarakat Jawa, telah menjadi latar munculnya berbagai festival atau perayaan untuk memperingatinya.

Perayaan-perayaan ini tak hanya ditujukan untuk kegiatan keagamaan, tapi juga bagian perayaan kultur budaya sekaligus pelestarian tradisi masyarakat.

Drs. Bambang Diponegoro Msc pakar Budaya dan pakar Karakter Bumi dan Alam Semesta yang asli putra Purworejo Jateng ini mengatakan satu Suro atau ‘Suroan’ dianggap sebagai hari besar yang sakral bagi warga Solo khususnya dan seluruh orang jawa di dunia ini pada umumnya dan secara turun-temurun, di mana masyarakat kebanyakan mengharapkan bisa mendapatkan berkah pada hari besar ini, ritualnya diistilahkan sebagai ‘Ngalap Berkah’.

Bagi masyarakat Solo khususnya dan orang-orang kejawen pada umumnya, Suroan merupakan kegiatan berdoa bersama sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan. Tradisi ini juga dapat mempererat tali persaudaraan.

Pada malam satu Suro, biasanya masyarakat Solo melakukan kegiatan laku prihatin untuk tidak tidur semalam suntuk atau selama 24 jam.

“Selain itu, sepanjang bulan Suro kami masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling disini memiliki arti manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan, Sementara, waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan.” Terangnya.

Saat ditanya oleh awak media etabloidfbi.cim tentang harapan 1 suro tahun ini, Sosok Asli orang Jawa ini sekaligus pendiri LBH Gajah Mada Satya Dharma menyampaikan, ” Dengan tradisi suroaan ini dan penanggalan baru itu khususnya orang Jawa harus benar-benar menyatu sehingga menjelma menjadi kekuatan yang solid.
semangatnya semangat politik budaya,” pungkasnya.

Dalam menjaga kerukunan, persaudaraan, dan keutuhan bangsa ini, Diakhir kata, Drs. Bambang Diponegoro MSc pakar Budaya dan karakter Bumi dan Alam Semesta ini berpesan, ” Dengan Keanekaragaman kultur, khususnya keragaman agama, suku, dan ras secara langsung ataupun tidak telah memberikan banyak tantangan bagi umat manusia. Karena itu, kenyataan tersebut tidak harus membuat umat manusia yang berasal dari kultur yang berbeda menjadi terpecah belah dan saling memusuhi satu sama lain.”
Dengan momentum 1 Suro kita selaku masyarakat Indonesia yang bermartabat, harus menjunjung tinggi Pancasila sebagai dasar negara bangsa Indonesia. Di mana sila-silanya menghargai dan menghendaki toleransi antarsesama umat beragama dan bermasyarakat. Dengan menghayati setiap sila dalam Pancasila, maka pasti tidak akan ada yang namanya egoisme antarsuku, ras dan agama, serta tidak akan terjadi konflik antar etnis dan agama yang dapat membahayakan kehidupan bernegara dan keamanan nasional, baik internal maupun eksternal.

Rahayu.. Rahayu.. Untuk kita semua..

EDITOR : TABLOID FORUM BHAYANGKARA INDONESIA 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *